Selasa, 09 Juli 2013

Insiden pantat gue hancur lebur kaya bubur

Beberapa hari ini kostan gue suasananya serem banget. Banyak aura negative terpancar disetiap sudut ruangan. Bisa dibilang gue juga dalam kondisi kritis, gue terancam kesepian karena sebagian teman kost lagi pada mudik. Ibu bersih-bersih (pembantu bapak kost) diganti dengan mbak bersih-bersih yang agak sedikit misterius. Pagi hari, gue mau berangkat ngantor mbak bersih-bersih belum dateng, pas gue pulang pintu dekat dapur dibiarkan terbuka, pintu dekat kamar gue yang mengarah ke balkon dibiarkan terbuka juga. Maksudnya apa coba? Bulu kuduk gue berdiri, merinding disco.

Disaat seperti ini biasanya gue mentransmigrasikan tipi ke dalam kamar gue. Sesekali terdengar suara berisik dibelakang kostan, bapak-bapak kuli bangunan bekerja tiada henti, mungkin sistem kerjanya borongan kali ya. Biasanya gue kalau malem meluangkan waktu untuk menikmati indahnya bulan di balkon tapi beberapa hari ini gue absent. Gue lebih fokus menyepi di dalam kamar. Tak ingin merasakan kesepian yang berkepanjangan gue mengajak miss perfect jalan-jalan. Kebetulan keponakan dia lagi ngabisin liburan akhir semester di Semarang.
"Mumpung Flo disini gimana kalau kita ajak dia jalan-jalan kemana gitu.."
"Hhm, kemana ya? gimana kalau kita nonton monsters university aja?"
"Gimana kalau kita ajak Flo ke lawang sewu?" 
"Oh no..!! makasih deh, gak niat sama sekali." jawab miss perfect 

Entah kenapa sekian lama gue di semarang, sekian banyak orang yang gue ajak ke lawang sewu semuanya kompak menolak ajakan gue. Miss perfect phasmophobia gara-gara pernah suara setan menyeramkan pas praktek kerja industri jaman dia sekolah. Mas supervisor yang emang phasmophobia akut. Mbak tifa yang bercita-cita nonton film horor nanti kalau dia udah nikah. Katanya sih biar ada yang nemenin bobo kalau takut. Sungguh cita-cita yang aneh. Dikelilingi oleh orang yang phasmophobia membuat gue kadang jadi setengah phasmophobia. Konon kalau kita ke lawang sewu untuk melihat nilai sejarahnya, pasti gak akan melihat yang aneh-aneh. Tapi kalau kita kesana karena niat ingin melihat hantu, pasti nanti dilihatin hantu beneran. Hihihihihi *backsound kuntilanak

Akhirnya gue gagal ke lawang sewu lagi. Miss perfect menolak ide spektakuler gue yang begitu cetar membahana melewati garis khatulistiwa melalang buana, mendarat di halim perdana kusuma kemudian menggebrak meja ala arya wiguna. Gue pun mengiyakan nonton monsters university.
"Mau nonton dimana? CL atau paragon?" tanya miss perfect
"Enaknya dimana?" gue balik tanya. Soalnya seminggu yang lalu kita juga abis nonton di paragon.
"Kalau di paragon 3D, kalau di CL gak 3D.." 
"Ehhm, di CL aja deh, abis nonton nanti kita main sepatu roda ya?" kali ini ide gue agak waras

Malam itu gue, miss perfect dan Flo nonton monsters university. Baru tahu gue ternyata monsters juga sekolah untuk menakut- nakuti anak kecil. After that gue main sepatu roda di simpang lima. Ini kedua kalinya gue main sepatu roda di simpang lima.
Miss perfect menuntun Flo belajar sepatu roda, gue ngelihatin mereka dari kejauhan. Beberapa menit kemudian miss perfect menghampiri gue yang sedang menikmati pemandangan sekeliling simpang lima.
"Aku maen.." miss perfect melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu roda. Gue pun ikut maen, memakai sepatu roda dan mulai beraksi.
"Mas, mas aku pakai yang gak licin aja deh.." miss perfect tampak kesulitan berdiri 
"Udah gak apa-apa.." gue berceloteh sambil berlalu meninggalkannya. Gue langsung meluncur bak atlet sepatu roda profesional yang pernah mengikuti kejuaraan sepatu roda tingkat RW. Awalnya sih fine-fine aja, lancar jaya, gak ada hambatan sama sekali.
"Ni, ni jangan cepat- cepat gitu dong, tungguin..!!"
"Ayo.." jawab gue sambil tetap berlalu menikmati kemahiran gue, gue meluncur dengan sangat indah. Gue nyengir penuh kebahagiaan. Pas gue muter tiba-tiba gue oleng, gak bisa ngerem. Benar-benar gak bisa dikendalikan. Hanya ada dua pilihan, jatuh atau terus mundur sambil mempertahankan keseimbangan. PRAKK..!!! gue terjatuh dengan penuh kenistaan.
"Aduh..!! gue mengerang kesakitan. Ya ampun rasanya tuh benar- benar wow banget. Pantat dan tangan gue berciuman dengan lantai. Gue jatuh dengan posisi duduk persis sewaktu olahraga  loncat indah. 

Setiap kali gue jatuh, gue pasti ngelihatin sekeliling berdoa semoga gak ada yang ngenalin gue apalagi ngakak bahagia diatas kesakitan gue. Gue berusaha berdiri. Saat itu gue baru nyadar ternyata disamping kiri gue ada cowok ganteng yang ngelihatin gue. Oh, my god betapa malunya gue. Gue sok cuek, lagian kan emang gak kenal sama cowok itu. Gue menghampiri mas yang menyewakan sepatu roda.
"Mas, ini yang buat ngerem mana sih?" tanya gue
"Oohh.." dia memperhatikan sepatu roda yang gue pakai. "Ini remnya gak ada, gak apa-apa nanti kamu langsung pinter.."
Bodohnya gue kenapa gak minta ganti sepatu roda. Seolah gue benar- benar tersugesti, gue akan menjadi atlet sepatu roda profesional, gue akan go internasional. Gue duduk disamping anak kecil yang tadi gue lihat main bareng Flo. Flo dan miss perfect tampak asyik main, sambil sesekali berhenti dan jatuh juga. Kalau gak jatuh, katanya gak bakal pinter mainnya. Katanya sih gitu.
"Adek namanya siapa?" gue bertanya ke anak kecil unyu berambut ikal yang duduk di samping gue.
"Hany mbak.." dia menjawab dengan penuh keunyuan.
"Oohh Hany.. Hany kesini sama siapa?"
"Sama mama, om.."
"Lho, mamanya mana?"
"Itu.." dia menunjuk seorang ibu-bapak yang lagi ngobrol gak jauh dari tempat kita duduk.
"Hany masih TK ya?" tanya gue sok tahu
"Naik kelas dua mbak.."
"Hany sering main kesini?". Hany mengangguk. Kalau gue perhatiin Hany udah mahir main sepatu roda meskipun dia masih pakai yang pemula. Bahkan ketika Flo jatuh, si kecil Hany unyu yang membantunya berdiri.

Gue ngelanjutin main lagi setelah rasa sakit dipantat gue sedikit ilang. Dengan penuh percaya diri gue meluncur. Aman..aman..aman.. gue terus meluncur dengan sangat indah. Tiba-tiba PRAKK..!! gue jatuh lagi ketika mau belok. "Aduhh..!!!" gue mengerang kesakitan. Seorang cewek berkulit putih dengan mata agak sipit menghampiri gue, menyuruh gue berdiri. Gue panggil dia kakak cina.
"Kakinya diangkat, kiri-kanan, kiri-kanan" kakak cina mencontohkan. Gue berdiri disamping kakak cina, berbarengan melakukan gerakan kiri-kanan tadi.
"Nah itu bisa, badannya agak sedikit bungkuk.." gue mengikuti instruksi kakak cina, orang yang belum pernah gue kenal sebelumnya, entah dia berasal dari planet mana.
"Kalau mau jatuh tangannya gini aja..." dia mencontohkan lagi.
"Iya kak. tapi kalau bungkuknya agak susah" jawab gue.
Kakak cina tersenyum, mungkin dia mengerti keadaan gue yang memang belum terbiasa.
"Udah, mainnya sini aja. kalau disitu rame"
"Iya kak.." gue tersenyum. Kakak cina berlalu meninggalkan gue, menghampiri adiknya yang juga lagi belajar sepatu roda. Gue lanjut main, menghampiri Flo. "Flo udah bisa?" tanya gue ke Flo. Flo nyengir.
Gue terus meluncur dengan sangat indah. Tapi untuk ketiga kalinya gue jatuh lagi. Ini semua pasti gara-gara sepatu rodanya gak ada remnya. Kali ini rasa sakitnya begitu dahsyat. Seperti gempa berkekuatan 2,55 SR mengguncang pantat gue. Untungnya tidak berpotensi tsunami.Gue berdiri, melangkah tertatih, rasanya sakit banget. Akhirnya gue berjalan dengan tumpuan lutut mendekati hany yang dari tadi duduk manis.
"Dek, dek, tolong kursi itu dek.." peintah gue ke Hany.
Hany menatap gue iba. Dia mengambil sebuah kursi kecil yang ada di sekitar tempatnya duduk. Gue duduk, dan terus saja mengerang kesakitan.
"Aduh..aduh.." sambil megangin pantat
"Ayo, main lagi.." kakak cina berdiri di depan gue
"Aduh, capek kak.." gue beralasan. Padahal sih gue benar-benar dalam kondisi memprihatinkan. Tapi gue harus tabah menghadapi cobaan ini. Kakak cina tersenyum dan meluncur lagi. Gue pasrah, menatap sekeliling, memperhatikan Flo dan miss perfect. Beberapa menit kemudian gerimis mengguyur kawasan simpang lima. Seolah gerimis datang mewakili suasana hati gue. Gue pulang dengan kondisi pantat hancur lebur kaya bubur. Oh, sakiiiittt......!!!

Minggu, 09 Juni 2013

Pindah kost - pindah hati


Gak terasa, ternyata gue udah lama hidup di kota atlas ini. Bentar ya, gue ambil kalkulator dulu. Ehm, gue udah sembilan bulan disini sejak akhir agustus tahun lalu. Ibarat ibu hamil bentar lagi gue melahirkan. Ya, itu cuma pengandaian aja, faktanya sampai detik ini gue masih hidup sebagai jomblo sehat nan bahagia. Jadi jelas, gue masih unyu – unyu.

Saat gue nulis postingan ini, hati gue sebenarnya dalam kondisi yang tidak stabil. Mungkin karena hormon gue sedang tidak seimbang. Hati ini hambar, otak gue gentayangan entah kemana, pikiran gue melayang – melayang. Adanya ketidaksinkroanan antara hati, jiwa dan pikiran. Seandainya ada setan lewat, mungkin bentar lagi gue kesurupan. 

Awal bulan lalu gue pindah kost. Ya, keadaan mengharuskan gue pindah kost meskipun sebenarnya hati gue berkata “tidakk..!!!”. Tapi menurut gue itu keputusan yang terbaik. Endingnya gue harus ikhlas menerima kenyataan and life must go on.

Setidaknya Tita masih bisa tiap hari gue jumpai di kantor. Tapi untuk beberapa teman kost lain,gue pasti akan merindukan mereka. Gak ada lagi nonik, si manusia asal solo bermata sipit. Masih inget gue malam terakhir sebelum gue pindah dia curhat masalah kerjaan dikantor & skripsinya. Gak ada lagi mba tifa, yang biasanya manggil gue, “uwis..!!!” sambil ketok – ketok pintu kamar gue. Gue pasti bakal kangen dengan suaranya yang cetar membahana melintasi garis khatulistiwa. Hahahaha, gue pernah usil matiin lampu kamar mandi waktu mba tifa mandi. Alhasil, gue di semprot ngalor- ngidul. Ahihihihi. Mba tiwi yang lebay, minta ditemenin nonton X-factor malah dia yang ketiduran. Gak akan gue dengar lagi hanna yang biasanya teriak histeris telponan sama pacarnya. Aini, piket nguras bak mandi bareng dia, naik angkot bareng, sering ngajakin ke warnet dan moment indah lainnya yang gak bisa gue sebutin satu per satu. Oh my god, tisu mana tisu..!!! *nangis guling – guling

Kebiasaan kita malam minggu biasanya begadang rame – rame nonton film, mulai dari film alien gitu, nyampe yang sedih- sedih kaya film drama korea. Diselingi dengan gosip hot, biasanya kita ngobrol ngalor – ngidul dari sabang sampai merauke. Mulai dari nggosipin ibu kost & keluarganya yang kurang care dengan pelayanan kostan, sampai Rhoma irama, Eyang subur & Arya wiguna juga ikut ramai jadi bahan perbincangan. 

Berat sebenarnya harus meninggalkan semua ini, walau pun gue sadar bahwa kostan ini banyak kekurangannya. Dulu gue pengen telpon agen supertrap untuk menjebak ayam – ayamnya ibu kost yang kadang  kabur terus main di depan kamar anak kost. Bahkan salah satu anak kost ada yang punya hobby merokok di kamar mandi. Bayangin aja, seorang mahasiswa psikologi sebuah universitas di kota semarang mempunyai hobby merokok di kamar mandi. Ih, ada yaa cewek kaya gitu? Kadang malah gue lihat ada botol miras di depan kamarnya, pernah gue jumpai dia dan teman – temannya lagi main remi gitu. Ya, ampun mau jadi apa Indonesia kalau generasi muda, mahasiswanya kaya gitu? Sialnya, gue pernah hampir mati karena bau asap rokok di kamar mandi. Insiden itu membuat gue langsung melakukan aksi tutup hidung tiap kali bau asap rokok. Moga aja deh, suami gue kelak bukan perokok *amiinn.

Terkadang manusia harus hidup pada suatu keadaan yang tak sesuai dengan hati, menerima kenyataan dengan ikhlas bahwa ini adalah sebagian perjalanan hidup. Percayalah yang memberi hidup lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita.



Kamis, 30 Mei 2013

It's about ngapakers


Entah kebetulan atau suatu keharusan garis kehidupan menyeret gue ke belantara Semarang. Ibu kota provinsi Jawa tengah yang terkenal dengan lumpia dan wingko babatnya. Satu lagi, Semarang gak kalah sama Jakarta, sama- sama panas, kipas angin di kostan selalu on, dan gue mempunyai hobi baru, minum es. Letak geografis Semarang yang berada dibawah permukaan laut menyebabkan sering terjadinya rop.
       
Bokap & nyokap gue ngapak, mereka bersinergi, disilangkan lahirlah gue ngapak kuadrat. Tapi sengapak-ngapaknya gue, gaya bicara gue gak seperti Kartika Putri yang di pesbuker. Lidah gue bisa beradaptasi dengan kondisi sosial budaya dimana gue tinggal.        Diantara sekian juta manusia yang tinggal di kota atlas, pertemuan gue dengan manusia berdarah ngapak selalu meninggalkan kesan. Puluhan manusia yang berasal dari spesies ngapak banyak gue jumpai di belantara semarang ini. Terkadang gue merasa ada chemistry setiap kali bertemu dengan manusia berdarah ngapak.

Ini tentang mbak penjual kue bandung. Gue heran kenapa martabak manis di Semarang dinamakan kue bandung? Padahal di Bandung belum tentu namanya kue bandung. Iya gak? Kalau di Malang martabak manis disebut terang bulan. Gue suka martabak manis karena gue dan martabak manis memiliki persamaan yaitu sama – sama manis. Huahahahahaha *ngakak sambil goyang itik

“Ni, kue bandung yang di pinggir jalan raya itu enak lho..”
“Oh, ya…” gue sedikit gak percaya. Sesampainya disana Tita duduk di kursi pelanggan yang telah disediakan. Sedang gue berdiri disebelah kanan mbak penjual kue bandung, memesan dan memperhatikan cara kerja mbak tersebut mulai dari membuat adonan, sampai mengemasnya. Serasa ada chemistry gue talking dari hati ke hati sama mbak tersebut. Seandainya mbak itu cowok jomblo unyu, gue pasti langsung fall in love in first sight sama dia. Mata gue gak berkedip sedikit pun. Mbak tersebut bercerita kalau dia sudah bersuami dan punya anak. Penampilannya yang modis, polesan make up menipu gue, tadinya gue pikir mbaknya masih lajang. Itu pertama kalinya gue bertemu & beli kue bandungnya tapi udah kaya tetangga sendiri. Sampai akhirnya setelah ngobrol ngalor- ngidul, gue tahu mbaknya asli Brebes.  “Oalahh, ngapak juga tho?”. “Iya mbak..Hehehehe..”gue nyengir dengan indahnya. Sejak saat itu gue jadi langganan kue bandung sama mbaknya, apalagi kue bandungnya enak lho, kue bandung terenak yang pernah gue makan di kota atlas ini.

Siang itu gue ditemani Garfield “folding bike” kesayangan gue menyusuri jalan Tlogosari raya. Disepanjang jalan banyak di jumpai pusat perbelanjaan dan pedagang emperan. Waktu itu yang gue cari tukang jahit yang biasanya mangkal di pinggir jalan. Gue menghampiri seorang bapak tukang jahit.
“Pak, minta tolong ganti resleting tas & jeans ini” gue menunjukkan bagian tas & jeans gue yang rusak secara berjamaah.
“Iya, tapi jadinya besok ya soalnya ngantri” jawab si bapak.
“Ehm, kalau sorean bisa gak pak?” gue menawar. Si bapak melihat tumpukan jahitannya, sepertinya mengira-ira apakah dia sanggup memenuhi permintaan gue.
“Ya, tapi malam jam 8an ya..”
“Oh ya, makasih pak..” gue berlalu meninggalkan si bapak tukang jahit.

Sore harinya Tita ngajakinn gue shopping. Peribahasa yang cocok untuk anak kostan adalah bersenang- senang dulu, susah kemudian. Shopping- shopping dulu, melarat kemudian. Setelah puas shopping gue menghampiri bapak tukang jahit. Dengan balutan helm pink unyu gue bertanya, “Pak, jahitannya udah?”
“Udah, ini..” Si bapak menunjukkan tas & jeans yang sudah di jahit rapi.
“Berapa pak?” tanya gue
“13 ribu. Asli Purwokerto ya?”. Gue deg-degan. “Please, jangan bilang muka gue mirip tempe mendoan” gue berdoa dalam hati.
“Iya, kok tahu pak..” gue harap- harap cemas
“Itu plat motornya R” jawab si bapak. Diseberang jalan tampak Tita duduk manis di motornya lengkap dengan helm ungunya.
“Lho, bapak asli mana?” tanya gue penasaran
“Pemalang..”. Dalam hati gue, “ngapak juga ternyata..”
“Makasih ya pak…”

Apalagi gue perhatikan jumlah warteg begitu menjamur di Indonesia. Dari tiga sample warteg, prediksi gue 100% benar bahwa warteg yang merupakan singkatan dari warung tegal itu yang punya ngapak. Warteg pertama terletak lima belas langkah dari kostan. Inilah tempat pertolongan pertama ketika gue lapar tingkat kecamatan. Pemilik dan semua karyawannya ngapak. Warteg kedua, sesuai instruksi detective conan gue mengamati dengan seksama mbak pemilik warteg waktu dia beli pulsa di counter gak jauh dari kostan. Ya, ampun logatnya ngapak banget. Gak perlu kenalan juga udah tahu bahwa dia berasal dari spesies ngapak. Warteg ketiga, gue gak sengaja dengar mbak-mbaknya ngobrol pakai bahasa ngapak. Akhirnya gue berkesimpulan beberapa tahun kedepan ngapak akan menjadi bahasa nasional kedua setelah bahasa Indonesia.

Cerita lain, pada suatu malam minggu gue JJM (jalan-jalan malam) tanpa tujuan. Mengurung diri dikamar buat seorang jomblo hanya akan menambah depresi. Gue mengayuh “Garfield” folding bike yang sangat gue sayangi dan gue banggakan menyusuri jalan tanpa tujuan. . Sampailah gue di pertigaan jalan, gue menghampiri penjual molen, digerobaknya tertera tulisan aneka molen. Ada rasa nanas, coklat, pisang, dll yang jelas gak ada rasa cowok ganteng. “Mba, sepedanya jangan parkir disitu? Itu buat jalan..”. Gue mengayuh sepeda dan meletakkanya di sebelah kanan mas penjual molennya. Kali ini lebih dekat dengan si mas penjual molen. Gue pun antri sampai satu per satu pembeli yang lebih dulu antri pergi. Tibalah gue dipanggil sama pak dokter. Hahaha, gak..gak.. maksudnya penjual molen tadi.
            

“Mas, molennya sepuluh ribu campur ya?”. Si mas penjual molennya mengangguk, tanda bahwa dia ngerti. “Mbaknya asli semarang?”tanya mas penjual molen. Gue langsung deg- degan jangan- jangan muka gue mirip mendoan sampai-sampai dia tahu gue bukan asli orang sini.
           
“Bukan.. Purwokerto mas..”jawab gue harap- harap cemas. Gue berharap dia gak bisa menirukan gaya ngomong sok ngapak seperti mas- mas yang gue jumpai di salon waktu nemenin mpo indun (temen kost gue) smoothing.  “Oohh…tahu purworejo gak?” mas penjual molen mengambil beberapa molen dan menaruhnya di kertas.
            “Tahu.. sampean asli situ mas?” tanya gue
            “Bukan, molen..!!!”
Mas penjual molen  menyerahkan sekantong plastik, kita pun ngakak berjamaah.
            “Hahahaha.. ya akulah masa molen..”
 “Hahahaha… makasih ya mas..” Gue menerima kantong plastik molen, menyerahkan uang sepuluh ribu dan berlalu meninggalkan mas penjualan molen.


Begitu banyak ngapakers yang gue jumpai, mulai dari tukang siomay yang biasanya lewat depan kostan. Sampai pak Jarot seorang accounting yang bekerja di harian suara merdeka.
“Ibu asli Banjar negara, bapak juga asli Banjar negara. Bapak dapat kerjanya disini sih makannya tinggalnya disini” istri pak jarot menjelaskan asal- usulnya. Gue pernah ditawarin kerja di warnetnya.

Ngapakers yang baru- baru ini gue jumpai itu pak Agus, bapak yang menyewakan sepatu roda di simpang lima. Siapa sih yang gak tahu simpang lima? Sebenarnya gue jarang maen ke simpang. Ada beberapa alasan kenapa gue jarang maen kesimpang, salah satunya karena gue itu masih jomblo jadi gak ada pacar yang ngajakin *nyesek. Sebagian golongan remaja menjadikanya sebagai tempat pacaran. Ya, begitulah adanya, jaman sekarang memang jarang sekali anak muda yang menerapkan gaya pacaran yang sopan dan terdidik. Sedikit sekali yang bisa menghormati dan menghargai perasaan kaum tuna asmara seperti gue. Gue cuma bisa melirik sinis kalau ada muda- mudi pacaran gak sopan. *jomblo

Pertama kali ke simpang waktu gue menjalani ritual sebagai new comer di kota atlas ini. Diajak jalan- jalan sama Tita, ini lho semarang, ini lho simpang lima, ini lho cowok ganteng *Lho. Tita bak ibu guru geografi memaparkan dengan detail kondisi fisik kota atlas mulai dari letak astronomis, kondisi geografis dan keadaan sosial budayanya. Bahkan hal yang gak terlalu penting pun gue pelajari dari Tita. Dia udah kaya search engine buat gue. Dialah orang pertama yang gue tanyain kalau ada hal- hal yang gue gak ngerti, dia jugalah orang yang sering gue repotin selama gue menghirup nafas di kota ini. Kasihan banget nasibnya.
“Ni, bau cowok ganteng ya?”
“Masa sih?” Gue mendengus kaya kucing unyu lagi nyari kucing ganteng. “Oooh…” jawab gue.
“Tuh kan bau cowok ganteng” Tita menegaskan.
Gue diam, dibalik kata “Oooh…” sebenernya gue itu bingung karena yang dari tadi yang gue cium itu bau gas karbon monoksida yang dihasilkan knalpot motor yang dari tadi lewat di jalan raya. Sesuai dengan jam yang telah disepakati, sampailah gue & Tita di simpang lima. Malam itu kita janjian mau dugem (duduk-duduk gembira) bareng sama pak Aris (orang audit Surabaya)di simpang lima. Beberapa bulan sekali beliau ke semrang untuk mengaudit cabang perusahaan yang di semarang.
“Pak Aris udah nyampe mana?” tanya gue ke Tita
“Katanya sih tadi masih di hotel”  Tita menjawab.
Tiba- tiba terdengar suara hape berdering. Tita mengambil hape di tasnya. “Haloo….”
“Iya, dari hotel pak Aris belok kiri terus…bla bla bla” Tita menjelaskan. Gue langsung tebak kalau itu telponnya dari pak Aris.
“Ayo, kita muter dulu yuk..” dengan nada sedikit nada kesal Tita menutup hape dan menaruhnya di tas. Pak Aris datang terlambat.
“Yuk…” jawab gue. Duduk manis di simpang lima itu sudah terlalu mainstream. Baru beberapa langkah berjalan, “Ni, katanya kamu pengen maen sepatu roda?”. Gue memandangi sekeliling, banyak berjajar rapi sepatu roda, skuter, sepeda yang disewakan. “Pengen sih,,” belum sempat gue meneruskan kata- kata, seorang bapak berambut ikal menghalangi langkah kita. “Eh, ada mba- mba cantik, mau nyobain sepatu roda?”. Si bapak menyeret tangan dan menyuruh kita duduk disamping sepatu roda yang berjejer rapi .
“Pak, ini satu jamnya 15ribu ya?” seru Tita. Tita udah lama tinggal di Semarang jadi wajar kalau dia tahu harga pasaran sewa sepatu roda di simpang lima. Nama bapak itu pak Agus, dan gak ada alasan buat gue untuk menolak apalagi setelah gue tahu ternyata dia berdarah ngapak juga sama seperti gue. Pak Agus memanggil satu lagi temannya untuk mengajari Tita, sedang gue diajarin pak Agus langsung. Jadi selama belajar sepatu roda bahasa yang gue gunakan campur sari banget. Gue sama sekali gak malu menggunakan bahasa kebanggan gue itu. Bahkan jika kelas gue bersuami seorang bule asal finlandia pun gue akan selalu ingat bahasa ibu, tempat dimana gue dilahirkan dan di besarkan. Entah untuk keberapa kalinya gue bertemu dengan orang yang berasal spesies ngapak di belantara Semarang ini.
“Arep nganggo sing licin apa pemula?” tanya pak Agus.
“Pemula bae lah pak..”jawab gue dengan logat ngapak juga. Pak Agus mencari sepatu roda yang cocok buat gue dan memasangkanya di kaki gue. Gue dipaksa berdiri sama pak Agus.
“Pak, nyong wedi..” gue teriak- teriak histeris kaya orang mau diperkosa.
“Ora usah wedi, nyong tanggung jawab. Dijamin sejam wis langsung bisa” pak Agus meyakinkan. Lima menit kemudian pak Agus menghilang entah kemana.
“Kepriwe sih pak? Jarene tanggung jawab” gue menggerutu dalam hati. Ntar kalau gue hamil siapa yang tanggung jawab? Eh, salah maksudnya kalau jatuh gimana? Gue tetap semangat belajar sepatu roda sendirian.
Prakk…!! gue jatuh. “Aduhh..”gue mengerang kesakitan.
            “Mbak, nek gak iso ganti wae?” seorang anak kecil yang lagi maen skuter nyamperin gue.
           “Opone seng diganti?”. Anak kecil itu gak jawab, malah pergi ninggalin gue sambil ketawa- ketiwi gak sopan. Gue berusaha berdiri, melihat sekeliling. Untung gak ada satu pun yang gue kenal. Dari kejauhan gue lihat Tita masih belajar sama mas- masnya. Gue mencari- cari pak Agus. Eh, si bapak malah lagi makan sambil baca koran. Ternyata pak Agus melihat gue jatuh, dari kejauhan dia memberi isyarat menyuruh gue untuk berdiri. Gue berdiri, terus berjuang belajar sepatu roda seorang diri. Anak kecil yang tadi nyamperin gue, malah ketagihan nggodain gue. Seolah dia berharap gue jatuh, dan dia bisa ngakak sepuasnya.
            “Mbak, nek gak iso ganti wae?”
           “Opone seng diganti?” dari tadi gue masih bingung. Anak kecil itu gak jawab masih tetap ketawa- ketiwi ngeliatin gue.
            “Eh, kowe iku ojo nakal..”. Anak kecil itu terus mengganggu gue.
            “Sopo seng nakal mba?”
       “Kamu pasti masih SD ya? Sekolahmu nang ndi? Sesuk tak parani lho..” dengan nada sedikit mengancam kaya preman pasar johar.
            “SMP mba. SMP An Nur Pedurungan situ. Tahu gak mbak? Mbake rumahnya dimana?”
            “Mau tahu aja, atau mau tahu banget?”
            “Ih gitu..” anak kecil itu agak sedikit kecewa.
          
Malam itu gue sama Tita di godain sama anak kecil ingusan itu. Belum sempat gue mengadakan upacara pengangkatan dia sebagai adik gue, dia sudah menghilang di telan bumi. Selepas kepergian anak kecil itu, sekelompok mas- mas SKSD menghampiri gue dan Tita. “Tita..Tita…!!!” Gue teriak- teriak, menyemangati Tita yang lagi asyik maen sepatu roda. Sekelompok mas- mas itu ternyata sedang menjalani diklat di BPIP semarang, semacam diklat pelayaran gitu. Ternyata banyak yang ngapak juga lho. Ada yang dari pemalang sama purbalingga. Gue belajar dari mereka gimana cara maen sepatu roda.
            “Ngesuk tanggal 16 juni bocah undip arep pada ngumpul nang kene..” pak agus memberitahu.
         “Oohh…” gue mengangguk. “Jangan-jangan pak Agus punya perkumpulan organisasi ngapak ya?” pikir gue dalam hati
            “Ngesuk ngeneh maning ya? Nek kowe nggawa kanca lima, nko gratis”.
           “Iya..” gue cukup mengiyakan
       “Pak, njajal praktek pak maen sepatu roda” seru Tita. Pak Agus gelagapan,  “Ya, emohlah nko kencot…” pak agus mencari alasan.
          “Ngomong bae ora teyeng mbok..” jawab gue serempak sama Tita
          “Hehehhehe..” pak Agus nyengir kuda.
Kita ngakak berjamaah. Serasa malam itu adalah malam perayaan hari ngapak sedunia.