Tampilkan postingan dengan label My story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Insident tlogosari

Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan berita kecelakaan kereta vs truck BBM milik pertamina di perlintasan Pondok betung, Bintaro. Iya, yang namanya maut itu gak ada yang tahu. Dan gak ada seorang pun yang bisa menghindari yang namanya maut. Jujur, mengikuti perkembangan berita kecelakaan KRL bikin merinding juga. Sebagai manusia biasa aku juga pernah melakukan kesalahan. Iya, manusia emang tempatnya salah. Aku juga pernah khilaf. Kecelakaan KRL ini bener-bener ngingetin aku dengan suatu insident. JENG.. JENG..!!

Sebagian besar kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia lebih banyak dikarenakan oleh human error. Kebanyakan dari kita tidak menaati dan mematuhi peraturan lalu lintas. Kadang tanpa disadari kelalaian kita dalam berkendara pun bisa mengancam keselamatan orang lain. Misal, kadang kita menyepelekan tidak memakai helm sewaktu berkendara dengan alasan, "Ah, deket kok gak usah pakai helm. Gak ada polisi, tenang aja..". Ya, itu cuma contoh kecil aja, masih banyak hal-hal lain yang mungkin belum kita sadari. Saat kita tidak hati-hati dalam berkendara, itu gak hanya akan membahayakan keselamatan diri sendiri tapi juga orang lain.

Minggu, 20 Oktober 2013

Manusia setengah salmon

Hari minggu ini gue sempetin ngepost. Walau pun harusnya gue posting beberapa hari yang lalu. Tapi gak apa kan gue telat ngepost daripada gue telat tiga bulan. *eh 

Finally gue nonton manusia setengah salmon juga. Ya, malem jumat kliwon kemarin gue nonton bareng Tita. Maklum lah, kan gue jomblo. Tadinya sih janjian nonton bareng mbak Tifa tapi ketemuan di CL. Gue udah deg-degan bakal ketemu dia untuk pertama kalinya dengan status sudah menikah di KTP. Tapi semuanya gagal dia dan sang suami gak jadi nonton dengan alasan ibu mertua lagi di Semarang, udah masakin banyak makanan. Yeah, I know it.

"Kita nonton yang jam 18.45 aja ya Ni? kalau yang jam 17.00 nanti kita gak bisa maghriban?"

"Iya..." jawab gue.

Selasa, 03 September 2013

Misteri angka 13

Tanda-tanda kehidupan dikostan gue udah mulai terang-benderang. Aura negative sedikit demi sedikit pun sirna. Ini semua diawali dengan kehadiran ibu bersih-bersih baru. Mbak bersih-bersih yang pernah gue ceritain di postingan ini udah resign. Menginjak bulan ketiga gue kost disini udah tiga kali terjadi pergantian jabatan mbak bersih-bersih. Ibu bersih-bersih yang pertama resign karena dia hamil dan ingin konsentrasi dengan kehamilannya. Kedua, mbak bersih-bersih yang sedikit misterius, baca aja deh postingan ini. Dia hanya bertahan sebulan. Sempat terjadi vacum of power untuk jabatan mbak bersih-bersih selama tiga hari. Dan yang baru ada ibu bersih-bersih lagi namanya bu yanti gomez. Dia mirip dengan Selena gomez jika dilihat dari atas gunung ungaran pakai sedotan dengan diameter 0,5 mm. Dia berasal dari Rembang, sebuah kota di pedalaman Afrika selatan. *ngawur

Sebagai anak kost yang biasa-biasa aja dan tidak begitu luar biasa, kehadiran bu yanti gomez cukup memegang peranan penting. Dia gak hanya sebagai orang yang diutus bapak kost untuk menjaga kebersihan dan keindahan kostan tapi juga temen buat gue. Adanya bu yanti gomez membuat hati gue menjadi aman, tentram dan damai. Gue punya pengalaman nyesek, senyesek-nyeseknya jomblo nyesek yang belum pernah ngerasain yang namanya nyesek. Yah, nyesek banget deh pokoknya. *nangis minta dibeliin es krim
Pada suatu hari terjadi mati lampu di kostan. Di lantai atas hanya ada gue, di lantai bawah tersisa dua temen kost tapi mereka memutuskan untuk menginap di kostan pacarnya. Sedangkan gue? Ya, gue jomblo. *jedotin kepala ke tembok
Berbagai pertanyaan berkecamuk di otak gue. "Kenapa mereka sadis meninggalkan gue sendirian? Dimana jiwa sosial mereka? Kenapa memilih menginap dikostan pacarnya? Itu kan gak baik untuk kesehatan? Kenapa gue jomblo?" gue depresi dan melakukan percobaan bunuh diri untuk pertama kalinya. "Mama, aku jomblo... maafkan aku mamaaa...!!!" Gue loncat dari atas balkon tapi nangsang di pohon kersem depan kostan. Seorang malaikat menyadarkan gue. Tadinya gue pikir malaikat Izrail 'pencabut nyawa' tapi ternyata bukan. Damn, gue belum mati. Dia lah malaikat Atid, yang rajin nulis amal buruk gue. Malaikat Atid memamerkan buku catatannya kemudian dengan tinta merah, font size 72, pakai bold juga sang malaikat menulis dengan indah nama gue disertai dengan keterangan gagal bunuh diri dan nangsang di pohon kersem. Malaikat Atid geleng-geleng kepala, gue yakin sang malaikat kagum dengan perbuatan tercela gue tersebut. Kemudian malaikat Atid BBM malaikat Jibril tapi BBMnya pending sampai akhirnya sang malaikat memutuskan untuk menelpon malaikat Jibril. Untungnya sesama operator jadi murah. Beberapa menit kemudian turunlah malaikat Jibril memberikan siraman rohani, menyuruh gue mengikuti ulangan remidi.
"Wahai anak Adam, apa yang terjadi padamu?"
"Wahai malaikat, kenapa aku jomblo?"
"Ketahuilah Tuhanmu menciptakanmu menjadi manusia baik. Tuhan menjomblokanmu karena DIA sayang terhadapmu. DIA tak ingin engkau terjerumus ke dalam lembah maksiat."
"Tapi malaikat.."
"Bersabarlah.. dan pergi lah kesana.."
Malaikat Jibril menyuruh gue pergi ke kostan bapak kost yang satu lagi. Pak Agus (bapak kost gue) memiliki dua kostan. Dengan langkah gontai gue berjalan menuju kostan yang hanya berjarak 50 m.
"Mbak..mbak..permisi.. assalamu 'alaikum..." gue ketok-ketok gerbang kostan yang di kunci.
"Mbak..mbak.." gue terus berusaha memanggil penghuni kost. Tiba-tiba ada anak kecil yang mengagetkan gue. Anak kecil unyu berumur sekitar 7 tahun yang pernah gue godain  waktu gue sama garfield jalan-jalan ke alfamart deket kostan.
"Mbak, aku boleh maen ke kostanmu gak?
"Hah.. mau ngapain? lagi mati lampu.. Itu lho kamu dicariin mama.."
"Mana? gak ada.." jawab anak kecil itu
"Itu.." gue menyuruh anak kecil itu pulang. Sebenernya pengen gue culik terus gue jual ke luar negri tapi gue gak tega.
"Ya Allah, haruskah hamba menjadi pedofil?" *jomblo salah pergaulan 
"Mbak..mbak.." gue terus berteriak memanggil penghuni kost. Munculah mbak bersih-bersih dengan balutan handuk ditubuhnya. Ternyata dia lagi mandi.
"Mbak, kostan ku mati lampu. Aku boleh tidur disini gak?" Sebagai jomblo gue sedikit phobia gelap. Biasanya kalau sendirian di kostan setiap ruangan gue nyalain lampunya.
"Aku masih mandi. Masuk dulu aja.." 
Malam itu gue resmi tidur dengan mbak bersih-bersih. Gue selamat dari tragedi mati lampu yang mengerikan. Terima kasih Tuhan..
***

Senin, 19 Agustus 2013

Legenda kaos kaki dan kerikil pusaka kerajaan majapahit

Finally gue mendarat dengan cantik jelita di kota atlas ini lagi. Udah lama banget gue gak ngepost. Maklum dua minggu yang lalu gue mudik ke Puerto Rico (read: Purwokerto). Gue hampir saja terlena dengan kehidupan disana. Memanjakan diri laksana tuan putri. But in fact, gue udah terdampar di belantara Semarang lagi. Gue menjelma menjadi rakyat jelata lagi. Yeah, life must go on. Gue harus berkelana mencari ksatria impian. 
***
Ceritanya malem minggu kemarin adalah malam terakhir gue di Puertorico. *so sad Berikut detik-detik menjelang perpisahan gue dengan ibunda dan ayahanda prabu.Sabtu pagi mbak tifah telpon gue.
"Uwis, kamu dimana?"
"Aku masih dirumah. Ke Semarang besok. Kenapa mbak?"
"Kirain kamu udah di Semarang, aku mau tidur di kostanmu. Kostan ku sepi gak ada siapa-siapa." *mbak tifah kan phasmophobia, ahihihihihi :D
"Tidur dirumahnya mba tiwi aja"
"Ya udah deh tak telp tiwul"
Abis ditelpon mbak tifah gue langsung nyadar kalau gue belum telpon agen travel buat balik ke Semarang. Gue langsung menelponnya. Sore harinya terjadi perdebatan yang cukup menggemparkan dunia.
"Nanti bawa beras lima kilo ya?" perintah nyokap
"Hah..!! banyak banget" jawab gue
"Gak apa-apa, buat makan satu bulan"
"Ya, kalau tas ku nyukup" gue beralasan
"Bawa dua kilo aja" bokap yang dari tadi memperhatikan kita menyahut. Berhubung gue biasanya kalau pagi masak nasi gue pun mengiyakan "Iya deh, dua kilo aja yaa.."
Sepertinya mereka ketakutan kalau anaknya akan terkena busung lapar.
"Ini biskuit dibawa ya.."
"Aduhh, tas ku gak nyukup" jawab gue
"Pake dus kecil aja yaa.."
"Terserah mama deh.."
"Ini kacangnya dibawa juga ya.."
"Terserah.." gue membiarkan nyokap berekspresi sesuka hatinya
"Ini krupuk dibawa ya.."
"Terserah.." jawab gue lagi
"Ditanya kok jawabannya terserah terserah terus.." nyokap menggerutu. Sepertinya semua makanan yang ada dirumah akan diserahterimakan ke gue. "Sekalian aja rumahnya dibawa ma.." batin gue.
"Kan bisa dimaem bareng-bareng sambil nonton tv. Buat temen-temen kamu juga. Nanti yang punya kost dikasih juga ya.."
"Bapak kost rumahnya jauh.."
"Emang gak satu rumah?" tanya nyokap
"Gak.." jawab gue agak ketus. Sore itu terbungkus rapi sebuah dus berisi makanan yang gue gak tahu isinya apa aja. Malam harinya gue packing, malam itu juga gue meminta nyokap tidur di kamar gue. *so sweet

Selasa, 09 Juli 2013

Insiden pantat gue hancur lebur kaya bubur

Beberapa hari ini kostan gue suasananya serem banget. Banyak aura negative terpancar disetiap sudut ruangan. Bisa dibilang gue juga dalam kondisi kritis, gue terancam kesepian karena sebagian teman kost lagi pada mudik. Ibu bersih-bersih (pembantu bapak kost) diganti dengan mbak bersih-bersih yang agak sedikit misterius. Pagi hari, gue mau berangkat ngantor mbak bersih-bersih belum dateng, pas gue pulang pintu dekat dapur dibiarkan terbuka, pintu dekat kamar gue yang mengarah ke balkon dibiarkan terbuka juga. Maksudnya apa coba? Bulu kuduk gue berdiri, merinding disco.

Disaat seperti ini biasanya gue mentransmigrasikan tipi ke dalam kamar gue. Sesekali terdengar suara berisik dibelakang kostan, bapak-bapak kuli bangunan bekerja tiada henti, mungkin sistem kerjanya borongan kali ya. Biasanya gue kalau malem meluangkan waktu untuk menikmati indahnya bulan di balkon tapi beberapa hari ini gue absent. Gue lebih fokus menyepi di dalam kamar. Tak ingin merasakan kesepian yang berkepanjangan gue mengajak miss perfect jalan-jalan. Kebetulan keponakan dia lagi ngabisin liburan akhir semester di Semarang.
"Mumpung Flo disini gimana kalau kita ajak dia jalan-jalan kemana gitu.."
"Hhm, kemana ya? gimana kalau kita nonton monsters university aja?"
"Gimana kalau kita ajak Flo ke lawang sewu?" 
"Oh no..!! makasih deh, gak niat sama sekali." jawab miss perfect 

Entah kenapa sekian lama gue di semarang, sekian banyak orang yang gue ajak ke lawang sewu semuanya kompak menolak ajakan gue. Miss perfect phasmophobia gara-gara pernah suara setan menyeramkan pas praktek kerja industri jaman dia sekolah. Mas supervisor yang emang phasmophobia akut. Mbak tifa yang bercita-cita nonton film horor nanti kalau dia udah nikah. Katanya sih biar ada yang nemenin bobo kalau takut. Sungguh cita-cita yang aneh. Dikelilingi oleh orang yang phasmophobia membuat gue kadang jadi setengah phasmophobia. Konon kalau kita ke lawang sewu untuk melihat nilai sejarahnya, pasti gak akan melihat yang aneh-aneh. Tapi kalau kita kesana karena niat ingin melihat hantu, pasti nanti dilihatin hantu beneran. Hihihihihi *backsound kuntilanak

Akhirnya gue gagal ke lawang sewu lagi. Miss perfect menolak ide spektakuler gue yang begitu cetar membahana melewati garis khatulistiwa melalang buana, mendarat di halim perdana kusuma kemudian menggebrak meja ala arya wiguna. Gue pun mengiyakan nonton monsters university.
"Mau nonton dimana? CL atau paragon?" tanya miss perfect
"Enaknya dimana?" gue balik tanya. Soalnya seminggu yang lalu kita juga abis nonton di paragon.
"Kalau di paragon 3D, kalau di CL gak 3D.." 
"Ehhm, di CL aja deh, abis nonton nanti kita main sepatu roda ya?" kali ini ide gue agak waras

Malam itu gue, miss perfect dan Flo nonton monsters university. Baru tahu gue ternyata monsters juga sekolah untuk menakut- nakuti anak kecil. After that gue main sepatu roda di simpang lima. Ini kedua kalinya gue main sepatu roda di simpang lima.
Miss perfect menuntun Flo belajar sepatu roda, gue ngelihatin mereka dari kejauhan. Beberapa menit kemudian miss perfect menghampiri gue yang sedang menikmati pemandangan sekeliling simpang lima.
"Aku maen.." miss perfect melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu roda. Gue pun ikut maen, memakai sepatu roda dan mulai beraksi.
"Mas, mas aku pakai yang gak licin aja deh.." miss perfect tampak kesulitan berdiri 
"Udah gak apa-apa.." gue berceloteh sambil berlalu meninggalkannya. Gue langsung meluncur bak atlet sepatu roda profesional yang pernah mengikuti kejuaraan sepatu roda tingkat RW. Awalnya sih fine-fine aja, lancar jaya, gak ada hambatan sama sekali.
"Ni, ni jangan cepat- cepat gitu dong, tungguin..!!"
"Ayo.." jawab gue sambil tetap berlalu menikmati kemahiran gue, gue meluncur dengan sangat indah. Gue nyengir penuh kebahagiaan. Pas gue muter tiba-tiba gue oleng, gak bisa ngerem. Benar-benar gak bisa dikendalikan. Hanya ada dua pilihan, jatuh atau terus mundur sambil mempertahankan keseimbangan. PRAKK..!!! gue terjatuh dengan penuh kenistaan.
"Aduh..!! gue mengerang kesakitan. Ya ampun rasanya tuh benar- benar wow banget. Pantat dan tangan gue berciuman dengan lantai. Gue jatuh dengan posisi duduk persis sewaktu olahraga  loncat indah. 

Setiap kali gue jatuh, gue pasti ngelihatin sekeliling berdoa semoga gak ada yang ngenalin gue apalagi ngakak bahagia diatas kesakitan gue. Gue berusaha berdiri. Saat itu gue baru nyadar ternyata disamping kiri gue ada cowok ganteng yang ngelihatin gue. Oh, my god betapa malunya gue. Gue sok cuek, lagian kan emang gak kenal sama cowok itu. Gue menghampiri mas yang menyewakan sepatu roda.
"Mas, ini yang buat ngerem mana sih?" tanya gue
"Oohh.." dia memperhatikan sepatu roda yang gue pakai. "Ini remnya gak ada, gak apa-apa nanti kamu langsung pinter.."
Bodohnya gue kenapa gak minta ganti sepatu roda. Seolah gue benar- benar tersugesti, gue akan menjadi atlet sepatu roda profesional, gue akan go internasional. Gue duduk disamping anak kecil yang tadi gue lihat main bareng Flo. Flo dan miss perfect tampak asyik main, sambil sesekali berhenti dan jatuh juga. Kalau gak jatuh, katanya gak bakal pinter mainnya. Katanya sih gitu.
"Adek namanya siapa?" gue bertanya ke anak kecil unyu berambut ikal yang duduk di samping gue.
"Hany mbak.." dia menjawab dengan penuh keunyuan.
"Oohh Hany.. Hany kesini sama siapa?"
"Sama mama, om.."
"Lho, mamanya mana?"
"Itu.." dia menunjuk seorang ibu-bapak yang lagi ngobrol gak jauh dari tempat kita duduk.
"Hany masih TK ya?" tanya gue sok tahu
"Naik kelas dua mbak.."
"Hany sering main kesini?". Hany mengangguk. Kalau gue perhatiin Hany udah mahir main sepatu roda meskipun dia masih pakai yang pemula. Bahkan ketika Flo jatuh, si kecil Hany unyu yang membantunya berdiri.

Gue ngelanjutin main lagi setelah rasa sakit dipantat gue sedikit ilang. Dengan penuh percaya diri gue meluncur. Aman..aman..aman.. gue terus meluncur dengan sangat indah. Tiba-tiba PRAKK..!! gue jatuh lagi ketika mau belok. "Aduhh..!!!" gue mengerang kesakitan. Seorang cewek berkulit putih dengan mata agak sipit menghampiri gue, menyuruh gue berdiri. Gue panggil dia kakak cina.
"Kakinya diangkat, kiri-kanan, kiri-kanan" kakak cina mencontohkan. Gue berdiri disamping kakak cina, berbarengan melakukan gerakan kiri-kanan tadi.
"Nah itu bisa, badannya agak sedikit bungkuk.." gue mengikuti instruksi kakak cina, orang yang belum pernah gue kenal sebelumnya, entah dia berasal dari planet mana.
"Kalau mau jatuh tangannya gini aja..." dia mencontohkan lagi.
"Iya kak. tapi kalau bungkuknya agak susah" jawab gue.
Kakak cina tersenyum, mungkin dia mengerti keadaan gue yang memang belum terbiasa.
"Udah, mainnya sini aja. kalau disitu rame"
"Iya kak.." gue tersenyum. Kakak cina berlalu meninggalkan gue, menghampiri adiknya yang juga lagi belajar sepatu roda. Gue lanjut main, menghampiri Flo. "Flo udah bisa?" tanya gue ke Flo. Flo nyengir.
Gue terus meluncur dengan sangat indah. Tapi untuk ketiga kalinya gue jatuh lagi. Ini semua pasti gara-gara sepatu rodanya gak ada remnya. Kali ini rasa sakitnya begitu dahsyat. Seperti gempa berkekuatan 2,55 SR mengguncang pantat gue. Untungnya tidak berpotensi tsunami.Gue berdiri, melangkah tertatih, rasanya sakit banget. Akhirnya gue berjalan dengan tumpuan lutut mendekati hany yang dari tadi duduk manis.
"Dek, dek, tolong kursi itu dek.." peintah gue ke Hany.
Hany menatap gue iba. Dia mengambil sebuah kursi kecil yang ada di sekitar tempatnya duduk. Gue duduk, dan terus saja mengerang kesakitan.
"Aduh..aduh.." sambil megangin pantat
"Ayo, main lagi.." kakak cina berdiri di depan gue
"Aduh, capek kak.." gue beralasan. Padahal sih gue benar-benar dalam kondisi memprihatinkan. Tapi gue harus tabah menghadapi cobaan ini. Kakak cina tersenyum dan meluncur lagi. Gue pasrah, menatap sekeliling, memperhatikan Flo dan miss perfect. Beberapa menit kemudian gerimis mengguyur kawasan simpang lima. Seolah gerimis datang mewakili suasana hati gue. Gue pulang dengan kondisi pantat hancur lebur kaya bubur. Oh, sakiiiittt......!!!

Minggu, 09 Juni 2013

Pindah kost - pindah hati


Gak terasa, ternyata gue udah lama hidup di kota atlas ini. Bentar ya, gue ambil kalkulator dulu. Ehm, gue udah sembilan bulan disini sejak akhir agustus tahun lalu. Ibarat ibu hamil bentar lagi gue melahirkan. Ya, itu cuma pengandaian aja, faktanya sampai detik ini gue masih hidup sebagai jomblo sehat nan bahagia. Jadi jelas, gue masih unyu – unyu.

Saat gue nulis postingan ini, hati gue sebenarnya dalam kondisi yang tidak stabil. Mungkin karena hormon gue sedang tidak seimbang. Hati ini hambar, otak gue gentayangan entah kemana, pikiran gue melayang – melayang. Adanya ketidaksinkroanan antara hati, jiwa dan pikiran. Seandainya ada setan lewat, mungkin bentar lagi gue kesurupan. 

Awal bulan lalu gue pindah kost. Ya, keadaan mengharuskan gue pindah kost meskipun sebenarnya hati gue berkata “tidakk..!!!”. Tapi menurut gue itu keputusan yang terbaik. Endingnya gue harus ikhlas menerima kenyataan and life must go on.

Setidaknya Tita masih bisa tiap hari gue jumpai di kantor. Tapi untuk beberapa teman kost lain,gue pasti akan merindukan mereka. Gak ada lagi nonik, si manusia asal solo bermata sipit. Masih inget gue malam terakhir sebelum gue pindah dia curhat masalah kerjaan dikantor & skripsinya. Gak ada lagi mba tifa, yang biasanya manggil gue, “uwis..!!!” sambil ketok – ketok pintu kamar gue. Gue pasti bakal kangen dengan suaranya yang cetar membahana melintasi garis khatulistiwa. Hahahaha, gue pernah usil matiin lampu kamar mandi waktu mba tifa mandi. Alhasil, gue di semprot ngalor- ngidul. Ahihihihi. Mba tiwi yang lebay, minta ditemenin nonton X-factor malah dia yang ketiduran. Gak akan gue dengar lagi hanna yang biasanya teriak histeris telponan sama pacarnya. Aini, piket nguras bak mandi bareng dia, naik angkot bareng, sering ngajakin ke warnet dan moment indah lainnya yang gak bisa gue sebutin satu per satu. Oh my god, tisu mana tisu..!!! *nangis guling – guling

Kebiasaan kita malam minggu biasanya begadang rame – rame nonton film, mulai dari film alien gitu, nyampe yang sedih- sedih kaya film drama korea. Diselingi dengan gosip hot, biasanya kita ngobrol ngalor – ngidul dari sabang sampai merauke. Mulai dari nggosipin ibu kost & keluarganya yang kurang care dengan pelayanan kostan, sampai Rhoma irama, Eyang subur & Arya wiguna juga ikut ramai jadi bahan perbincangan. 

Berat sebenarnya harus meninggalkan semua ini, walau pun gue sadar bahwa kostan ini banyak kekurangannya. Dulu gue pengen telpon agen supertrap untuk menjebak ayam – ayamnya ibu kost yang kadang  kabur terus main di depan kamar anak kost. Bahkan salah satu anak kost ada yang punya hobby merokok di kamar mandi. Bayangin aja, seorang mahasiswa psikologi sebuah universitas di kota semarang mempunyai hobby merokok di kamar mandi. Ih, ada yaa cewek kaya gitu? Kadang malah gue lihat ada botol miras di depan kamarnya, pernah gue jumpai dia dan teman – temannya lagi main remi gitu. Ya, ampun mau jadi apa Indonesia kalau generasi muda, mahasiswanya kaya gitu? Sialnya, gue pernah hampir mati karena bau asap rokok di kamar mandi. Insiden itu membuat gue langsung melakukan aksi tutup hidung tiap kali bau asap rokok. Moga aja deh, suami gue kelak bukan perokok *amiinn.

Terkadang manusia harus hidup pada suatu keadaan yang tak sesuai dengan hati, menerima kenyataan dengan ikhlas bahwa ini adalah sebagian perjalanan hidup. Percayalah yang memberi hidup lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita.



Minggu, 14 April 2013

Balada Seorang Jomblo

 Untuk kesekian kalinya gue berdamai dengan diri gue sendiri. Inilah solusi paling tepat ketika gue lagi desperate. Menerima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan hati bahwa gue masih single (ameliorasi dari kata jomblo). Kenapa sih gue jomblo? Gue jomblo karena gue gak punya pacar, wajar kan? Gue gak punya pacar makannya sampai detik ini gue masih menyandang status sebagai tuna asmara. Seorang kreditur cinta yang sedang mencari sang debitur cinta. Seorang fakir asmara yang sedang mengharapkan sedekah cinta dari   sang dermawan cinta.

Sejenak bisa gue definisikan kalau jomblo itu sesuatu yang wajar dan sederhana. Tapi pengertian wajar itu sirna seketika manakala gue berada pada titik klimaks kejombloan. Gue merasa terbelenggu dengan kejombloan ini. Gak ada lagi kata sederhana yang menghiasi hati gue. Mendadak hasrat ingin bunuh diri gue kembali muncul. Dan ketika semua rasa ini sudah gak bisa dibendung, gue benar - benar pengen jungkir balik masuk jurang. Aaaaarrgghhh....!!!! where are you romeo? Gue teriak- teriak kaya orang gila. Untungnya ada tukang ojek yang nyelametin gue. Alhamdulillah,gue belum mati. 

Next, gue kenalan sama si tukang ojek. Dia bukan sembarang tukang ojek. Dia ganteng mirip Christian sugiono. Gue memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Dia pun mengulurkan tangannya dan melemparkan senyuman manis ke gue. 
"Gue tian..". Cowok itu benar- benar ganteng.
"Gue nia, gue unyu dan masih jomblo lho..". Hahahaha, ini benar - benar kalimat perkenalan terkoplak. Tapi ini tulus dari lubuk hati seorang jomblo desperate. Harusnya seorang Christian sugiono itu menjawab seperti ini, "Hey nia, nice to meet you. Jadian yuk.."
Gue langsung teriak histeris, menangis bahagia. Akhirnya gue jadian sama Christian sugiono. 

Sudah, sudah,jangan mendramatisir keadaan. Ketahuilah setiap keadaan adalah ujian. Disaat jomblo gue butuh sebentuk perhatian. Disaat punya pacar gue rindu akan kebebasan. Bersyukur dan menikmati perjalanan hidup ini itu jauh lebih baik. Memaknai apa itu cinta gak semudah ketika kita punya pacar. Karena gue harus bisa mencintai diri gue sendiri dulu. Dan jangan sampai melupakan cinta gue terhadap Allah dan keluarga sampai akhirnya gue bisa sempurna mencintai orang lain.